Happy Valentine buat semua yang merayakan. Gak kerasa 19 tahub gua hidup dan melewati setiap tgl 14 Februari, dengan cuman mengatakan "Selamat Hari Valentine yah" tanpa pernah diucapin balik, or dikasih coklat kaya orang kebanyakan. Seriouslu. 19 tahun gua hidup, selama itu pula Valentine gua lewatin tanpa pernah dikasih coklat. Kalo denger temen-temen gua cerita tentang pengalaman Valentine mereka, gua rasanya sangat iri. Mereka gak ada pacar padahal, sama kaya gua. Tapi mereka bisa dapetin coklat bahkan bunga dari siapa tau. Bukannya gua berharap dapetin bunga dari someone, tapi dari temen-temen or anyone dah. Biar keliatan Valentine gua tuh berkesan dikit, dan punya cerita yang bisa dibagi ke temen-temen kalo ditanya "how your Valentine".
Tapi semua pemikiran itu, cuman bertahan sampe gua SMA ko. Semakin hari gua menyadari kalo Valentine mungkin identik dengan coklat dan bunga sebagai lambang kasih sayang. Bisa dari pacar, gebetan, crush, temen, sahabat, kaka, adek, orang tua, atau siapapun. Tapi yang jadi masalah adalah, ketika lo gak menghargai diri lo sendiri, dengan meratapi nasib yang gak dikasih-kasih coklat dan bunga dari siapapun
Itulah fakta yang terjadi pada gue selama gua belum sadar. Valentine yang harusnya jadi peringatan hari kasih sayang, justru berubah jadi peringatan hari termiris buat hidup gua. Tapi semenjak gua sadar, dan memikirkan hal ini berkali-kali, gua menemukan bahwa gua gak butuh seseorang buat ngasih gua coklat atau bunga. I think im not really need it. Kebanyak hari Valentine menjadi ajang ngumpulin coklat dan bunga sebanyak-banyaknya. For what? Buat buktiin lo banyak yang sayang? Mungkin jumlah coklat dan bunga itu nunjukin seberapa banyak yang sayang sama lo. But, di hari Valentine lo cuman menerima kasih sayang? Tanpa menyebar kasih sayang? Lo cuman pamer kasih sayang? Tanpa nunjukin kasih sayang? Itulah yang gua pelajari dari keterpurukan gua. Valentine bukan cuman soal coklat dan bunga. Gua gak bilang itu salah ya. Gak munafik lah gua juga mau dikasih coklat atau bunga. But, hal itu bukan lagi menjadi fokus utama peringatan Valentine buat gue. Tapi menebar kasih sayang ke orang-orang sekeliling kita. Sebenernya menebar kasih sayang gak harus tanggal 14 Februari. Semua hari, harus menjadi hari kita untuk menebar kasih sayang. But maybe tanggal 14 Februari ini, menjadi the day nya bagi hari kasih sayang.
Sekian sharing gue tentang Valentine.
Mari menebar kasih sayang untuk sesama
Happy Valentine everyone
Rina Tumiar
Selasa, 13 Februari 2018
Selasa, 02 Januari 2018
Uforia Mahasiswa Dalam Menyambut Direktur Baru PoliMedia
Nama : Rina Tumiar
Kelas : Penerbitan 1A
Mata Kuliah : Penulisan
Dosen : Pak Nova Darmanto, S.sos.
Tema :
Pergantian Direktur Baru
Topik : Uforia
Mahasiswa
Uforia Mahasiswa
Dalam Menyambut Direktur Baru PoliMedia
Pergantian direktur baru untuk Politeknik Negeri
Media Kreatif Jakarta, sudah sontak disiarkan mulai bulan Oktober.
Poster-poster dan banner sudah dipajang di sepanjang jalan kampus PoliMedia.
Hal ini disiarkan guna membangkitkan uforia mahasiswa dan warga kampus untuk
turut serta mengawasi jalannya masa pemilihan direktur baru pada saat itu.
Namun
sepertinya ajang pemilihan direktur ini tampak tidak terlalu diminati
mahasiswa. Terbukti dari minimnya desas-desus mengenai calon-calon direktur dan
pro kontra mengenai calon direktur. Seharusnya ajang demokrasi di wilayah
kampus ini mampu membuat seluruh mahasiswa ikut terlibat aktif dan menjadi
antusias terhadap pemilihan direktur ini. Pada saat diadakannya siding terbuka
mengenai visi-misi calon direktur, terlihat antusiasme mahasiswa tidak seperti
yang diharapkan. Hanya sebagian kecil dari ribuan mahasiswa PoliMedia.
Peran
Ormawa dalam mingkatkan uforia mahasiswa juga sangat diperlukan dalam hal ini.
Pasalnya, ormawa merupakan perpanjangan tangan mahasiswa kepada manajemen
tingkatan atas di PoliMedia. Sudah semestinya, ormawa gencar dalam melakukan
sosialisasi tentang calon-calon direktur dan memberikan sosialisasi mengapa
mahasiswa tidak diikutsertakan dalam pemilihan direktur. Hal ini perlu
dilakukan supaya uforia mahasiswa tidak menurun. Pasalnya, akan terjadi
kejanggalan dan penurunan antusiasme apabila keterlibatan mahasiswa tidak
diperhitungkan.
Jangan sampai, isu pemilihan
direktur ini hanya dijadikan sebagai kajian internal organisasi saja, yang
tidak akan berarti apa-apa bila tidak diforumkan dengan mahasiswa. Jika itu
terjadi, maka yang memiliki kepekaan terhadap isu kampus hanya orang-orang itu
saja, parahnya lagi, bila hanya dikaji oleh anggota ormawa dalam divisi yang
terkait dengan urusan kampus. Akhirnya, kehidupan berorganisasi dan
berdemokrasi di kampus kreatif ini tak kunjung menunjukkan hasil yang
progresif, terus saja menjadi kampus sepi, yang ramai hanya bila ada
acara-acara musik.
Dalam
masa penyampaian Visi-Misi oleh para calon direktur, maka brosur-brosur
bergambar ke-3 calon direktur sontak ditempeli di dinding-dinding di semua
lantai gedung E PoliMedia. Mengingat sepinya peminat pesta demokrasi kampus
ini, mungkin penempelan brosur tersebut mampu meningkatkan keingintahuan
tentang calon direktur baru PoliMedia. Namun siapa sangka, bukannya terlihat
antusiasme namun ada brosusr di lantai dasar, yang sudah dicorat-coret oleh
mahasiswa. Mahasiswa mengomentari desain brosur yang bergambar ke-3 calon
direktur beberapa tulisan menyebutkan bahwa desain seperti itu, tidak layak
digunakan, padahal ini adalah kampus kreatif. Jadi mungkin mahasiswa tersebut
mengomentari, bagaimana antusiasme atau uforia mahasiswa dapat terjadi, jika
keterlibatan mahasiswa secara aktif dibatasi, sehingga hal-hal kecil seperti
desai brosur mampu menjadi kontra yang cukup hangat pada saat itu.
Lalu
apakah keterlibatan mahasiswa dibutuhkan dalam pemilihan direktur baru ini? Pasalnya
akan terlihat seperti “buang-buang waktu” apabila mahasiswa hanya menjadi
penonton tanpa mampu menjadi penggerak. Hal ini menjadi salah satu penyebab
uforia mahasiswa tidak terlalu besar. Akan sangat memicu uforia mahasiswa,
apabila peningkatan sosialisasi yang bersifat wajib mengenai calon direktur dan
mahasiswa turut dalam pemungutan suara. Seperti yang dipaparkan jika pemilihan
direktur sifatnya tertutup.
Dalam
pemilihan direktur baru PoliMedia ini, terdapat beberapa hak pemilihan suara
dari tiap-tiap pihak Kementerian
Ristek dan PendidikanTinggi mempunyai 9 suara, atau 35 % dari total suara, dan
sisanya 65% hak suara dimiliki oleh senat. Hal itu sesuai dengan peraturan
Senat Politeknik Negeri Media Kreatif No 1234/PL.27.17/Senat/2017 pasal 14 ayat
5 tentang Pemilihan Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif Periode 2017-2021.
Mahasiswa atau perwakialan mahasiswa di ormawa tidak mendapatkan hak suara.
Lantas apakah alasannya? Bukankah seharusnya pesta demokrasi kampus ini
dinikmati oleh seluruh elemen kampus? Misalnya saja pemilihan gubernur atau
presiden. Seluruh rakyat Indonesia turut serta dalam pemilihan. Oleh sebab itu,
uforia dan antusiasme sangatlah beragam mulai dari pro dan kontra. Berbeda
dengan halnya pemilihan direktur ini. Nampaknya semua berjalan seperti
biasanya. Seperti tidak ada yang spesial. Padahal ajang pemilihan direktur ini,
dapat meningkatkan antusiasme dan uforia mahasiswa dalam mewujudkan salah satu
nilai pancasila, yaitu sila ke-5 “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.
Rupanya pemilihan direktur baru PoliMedia yang
dilaksanakan pada 22 Desember 2017 yang lalu, berjalan dengan baik dengan
terpilihnya pak Dr. Purnomo Ananto, M. M., dengan perolehan 15 suara. 9 suara untuk
Dr. Muhammad Nurwahidin, M. Ag., M.Si., serta 2 suara untuk Sarmada, S.Sos.,
M.Si. Dengan terpilihnya pak Dr. Purnomo Ananto, M.M., diharapkan mampu
menjalankan segala Visi-Misi selama periode kerja 2017-2021 dengan amanah,
sehingga membawa PoliMedia kearah yang lebih baik. Pak Purnomo Ananto, M. M., adalah dosen PPKn
dari prodi Penerbitan. Denagn demikian, tak ayal memberi kebanggaan tersendiri
bagai mahasiswa prodi penerbitan, dapat melihat dosen di prodinya naik sebagai
direktur. Mahasiswa prodi penerbitan yang diajar oleh Pak Purnomo banyak
mendukung, bukan karena berasal dari prodinya namun beliau adalah calon yang
diusung oleh banyak dosen bahkan dari psdd Medan dan Makasar untuk maju menjadi
direktur. Hal ini membuktikan bahwa, beliau layak untuk memimpin PoliMedia.
Lantas dengan
terpilihnya gubernur baru PoliMedia, bagaimana uforia mahasiswa dalam
menanggapi hal ini? Lagi-lagi seperti hari-hari biasanya, tidak ada yang
spesial. Hanya mungkin pemberitahuan tentang hasil pemungutan suara, yang di
bagikan di grup masing-masing prodi. Hal itu pun belum cukup membangkitkan
uforia mahasiswa dalam menyambut direktur baru PoliMedia. Karena peristiwa
pergantian direktur merupakan peristiwa penting di PoliMeida, seharusnya hasil
dari pemungutan suara tersebut dumumkan juga kepada mahasiswa dalam bentuk
poster atau pamphlet seperti poster pemilihan 3 calon direktur. Hal ini
dimaksudan supaya mahasiswa update
terhadap situasi PoliMedia terbaru. Bukankah akan sangat memalukan apabila ada
mahasiswa yang tidak tau siapa direktur baru dkampusnya? Terlepas dari
kesalahan siapa. Namun masing-masing pihak dalam hal ini, diri sendiri,
petinggi kampus, dan ormawa, harus meningkatkan informasi ter-update mengenai kampus, dalam hal ini pemilihan direktur baru
PoliMedia.
Apa harapan mahasiswa
terhadap terpilihnya direktur baru PoliMedia bapak Dr. Purnomo Ananto, M. M.,?
hal ini menjadi pertanyyan yang cukup menarik. Karena apa? Karena kita akan
mengupas bagaimana seorang calon direktur mengetahui hal-hal yang menjadi
aspirasi mahasiswa untuk kampusnya, jika bukan langsung dari mahasiswa? Hal ini
menjadi penting, karena keterlibatan mahasiswa dalam pemilihan tidak ada. Sosialisasi
visi-misi calon direktur juga hanya diadakan satu kali. Lantas bagaimana
mahasiswa akan menyampaikan aspirasinya? Hal ini berujung pada ketidaktahuaan
mahasiswa terhadap “harapan apa” untuk PoliMedia dengan pemimpin baru. Namun jika
ditanya sekalipun,pasti jawaban paling sering muncul adalah “semoga PoliMedia
dapat lebih baik lagi kedepannya”. Inilah hal yang abstrak. Lebih baik dalam
hal apa? Minimnya pengetahuan tentang calon direktur inilah yang menjadi
penyebabnya.
Selamat kepada
bapak Dr. Purnomo Ananto, M. M., atas
terpilihnya sebagai direktur baru PoliMedia. Semoga dapat amanah terhadap
Visi-Misinya. Semoga dalam masa jabatan periode 2017-2021, PoliMedia bisa
mengalami perubahan kea rah yang lebih baik. Kiranya bapak juga tidak letih dan
jemu dalam mendengarkan aspirasi mahasiswa demi tercipanya lingkungan PoliMedia
yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
1.
https://elshinta.com/news/131151/.../direktur-baru-politeknik-negeri-media-kreatif
TUJUAN
PENULIS:
Memenuhi tugas sebelum
UAS, dan supaya tulisan ini dapat menginspirasi pembaca
TUJUAN PENULISAN :
Memberikan informasi
kepada pembaca mengenai uforia mahasiswa pada pemilihan calon direktur baru
PoliMedia, serta memberikan saran dan masukan untuk tata cara pemilihan yang
lebih baik dikemudian hari.
Sabtu, 30 Desember 2017
LATIHAN PRA UAS SISTEM INFORMATIKA
Nama : Rina Tumiar
2. Apa saja kebutuhan sistem informasi pada perusahaan penerbit dan percetakan?
Kelas : Penerbitan 1A
NIM : 17310017
Dosen : Pak Iis Kandar, SE.,MMSi.
1. Apa saja area fungsional yang terdapat pada perusahaan penerbit dan percetakan?
Jawab :
|
Area Fungsional Perusahaan Penerbit dan Percetakan
|
||
|
No.
|
Area Fungsional
|
Tugas
|
|
1.
|
Editor
|
Melakukan proses penyuntingan atau pengeditan naskah yang masuk ke penerbit
|
|
2.
|
Redaksi
|
Menenntukan atau memutuskan naskah yang layak untuk diterbitkan
|
|
3.
|
Manajer Produksi
|
Menghubungi percetakan untuk membuat naskah menjadi bentuk buku dalam jumlah yang sudah ditentukan
|
|
4.
|
Manajer distribusi
|
Mendirstribusikan buku ke Toko buku, Perpustakaan, sekolah, kelompok baca, dll
|
|
5.
|
Manajer Pemasaran
|
Menentukan daerah atau pihak yang akan menjadi tempat pemasaran dengan harga yang sudah ditentukan oleh manajer produksi.
|
Jawab :
a. Sistem Informasi editorial
b. Sistem Informasi redaksional
c. Sistem Informasi produksi
d. Sistem Informasi disribusi
e. Sistem Informasi pemasaran
3. Apa saja informasi yang dihasilkan dari sistem informasi tersebut?
Jawab :
|
No.
|
Sistem Informasi
|
Informasi yang dihasilkan
|
|
1.
|
Editorial
|
- Naskah dari penulis
- Penyelengaraan editing kebahasaan, subtansional, dan pictorial
- Pembagian naskah ke dalam berbagai kategorial
|
|
2.
|
Redaksional
|
- Daftar kelayakan naskah
- Penyeleksian naskah yang layak terbit
|
|
3.
|
Produksi
|
- Bentuk dummy buku untuk diberikan kepada percetakan
- Data kuantitas barang yang akan dicetak
- Jenis-jenis bahan untuk proses produksi barang cetakan
|
|
4.
|
Distribusi
|
- Daftar wilayah pasar tempat produk akan dijual
|
|
5.
|
Pemasaran
|
- Strategi pemasaran produk
- Data buku yang terjual dan tidak terjual
- Data keuntungan dan kerugian
|
4. Tuliskan dan jelaskan prosedur/alur/tahapan proses penerbitan dan percetakan !
jawab :
a. Naskah masuk ke bagian penerbitan
b. Naskah diseleksi dengan kriteria tertentu oleh Editor
c. Dewan redaksi menentukan naskah layak untuk terbit atau tidak
d. Jika naskah layak terbit, maka proses selanjutnya adalah mengadakan Surat Perjanjian Penerbitan (SPP) antara penulis dan penerbit.
e. Naskah masuk ke bagian Editor kembali untuk diedit atau disempurnakan kembali
f. Naskah dibuat dalam bentuk dummy pada bagian produksi, untuk selanjutnya dicetak massal
g. Bagian produksi di penerbitan menghubungi percetakan dan mengadakan perjanjian penerbit-percetakan untuk mencetak buku secara massal
h. Selanjutnya naskah dalam bentuk dummy, akan diproses dalam tahap pracetak, disiapkan bahan-bahan dan alat cetak. Tergantung jenis cetak.
i. Setah memasuki tahap pra cetak, selanjutnya adalah tahap cetak, dimana buku diproduksi secara massal.
j. Selanjutnya, tahap pascacetak, yaitu proses finishing seperti; melipat, komplit, memotong dan mengemas.
k. Setelah semua tahapan produksi selesai, buku dikirim kembali ke penerbit, untuk selanjutnya dilakukan distribusi dan pemasaran kepada masyarakat
5.
Buatlah grafik
diagram flow/flowchart! Proses penerbitan dan percetakan!
6. Apakah sistem
informasi/teknologi informasi harus dikembangkan pada setiap industry
penerbitan dan percetakan? Kalau ya, jelaskan!
Jawab :
Ya, karena sistem informasi dan teknologi
informasi akan memudahkan dan mempercepat proses industry penerbitan maupun
pecetakan. Contohnya saya dalam proses Editing, jika sistem/teknologi informasi
belum dikembangkan atau masih manual, maka prosesnya akan berlangsung sangat
lama. Jika menggunakan teknologi informasi yang sudah berkembang maka
proses-proses atau tahapan menjadi lebih efisien.
7. Penerimaan
mahasiswa baru (PMB) selalu dilakukan PoliMedia setiap tahunnya, coba anda buat
tahapan PMB dan garafik diagram flownya dari proses PMB tersebut!
jawab :
a. Calon Mahasiswa Baru melakukan pendaftaran online di pmb.uangkuliahtunggal.com
b. Setelah mengisi form pendaftaran, Calon Mahasiswa Baru akan menirima E-mail mengenai berkas-berkas yang harus dipersiapkan
c. berkas-berkaswajib diisi oleh calon Mahasiswa Baru dan berkas dikirim secara kolektif oleh sekolah asal.
d. Pihak PoliMedia akan melakukan seleksi kelengkapan berkas.
e. setelah seleksi berkas, penentuan diterima/tidaknya calon mahasiswa Baru yang mendaftar
f. jika diterima, akan mendapatkan e-mail untuk melakukan pendaftaran ulang secara online
g. calon Mahasiswa Baru juga wajib mencetak invoice dan membayar administrasi untuk semester awal.
h. setelah semua tahapan penerimaan mahasiswa baru dilaksanakan, maka calon mahasiswa baru kan menerima e-mail terakait username, NIM, dan pemberitahuan mengenai technical meeting untuk PSP2 2017
Kamis, 28 Desember 2017
MAMAH-BAPAK
Kedua orangtua
saya menikah pada Selasa 17 Februari
1998, dan melangsungkan pemberkatan pernikahan di gereja HKBP Laepinang. Dengan
mengusung adat batak. Sebelum pernikahan ada, acara yang dinamakan ‘Martumpol’,
yakni perjanjian antara pihak laki-laki yang akan mengambil sang perempuan dari
keluarganya. Pada saat itu umur mamah menginjak 23 tahun, dan bapak berbeda 5
tahun dengan mamah, yakni 27 tahun. Resepsi pernikahan juga dilangsungkan pada
hari itu diadakan di aula rumah keluarga dari bapak saya di Laepinang,
Sidikalang.
Bapak saya adalah anak dari Manaek Pasaribu (kakek saya),
dan Medi Sianturi (nenek saya). Bapak anak ke-2 dari 10 bersaudara, lahir pada
4 Juli 1970 di Lepinang, Sidikalang, Sumatra Utara. Ke-9 saudaranya antara
lain; Buha Pasaribu menikah dengan Sarmauli Nibaho dan memiliki 4 anak, Manahan
Pasaribu menikah dengan Rika Sianturi memiliki 3 anak, Furida Pasaribu menikah
dengan Pardamean Manullang memiliki 6 anak, Jupen Pasaribu, menikah dengan
Romida Siagian memiliki 3 anak, Mangiring Pasaribu belum menikah, Masta
Pasaribu menikah dengan Candra Sitorus memiliki 1 anak, Pesta Pasaribu menikah
dengan Toni Siregar memiliki 2 anak, Goksan Psaribu belum menikah, Ramanta
Pasaribu belum menikah.
Pendidikan bapak saya hanya mencapai SLTP, dikarenakan
pada saat itu keterbatasan ekonomi dan mengharuskan bapak saya berhenti
pendidikannya dan akhirnya merantau ke Jakarta. Sebelumnya bapak saya mengenyam
pendidikan di SD 08 Lepinang, dan SMP/SLTP di Lepinang.
Mamah adalah anak dari pasangan Mangepar Pakpahan dan
Tinna Sibagariang, lahir pada 10 Januari 1975 di Aek Godang, Sumatra Utara.
Mamah anak ke-2 dari 6 bersaudara. Ke-5 saudaranya antara lain; Lempor Pakpahan
menikah dengan Veronika Silaban memiliki 8 anak, Rudi Pakpahan menikah dengan
Rewita Sibagariang memiliki 3 anak, Friska Samosir menikah dengan Tamba
Nainggolan memiliki 1 anak, Asmarine Pakpahan menikah dengan Harjo Marbun
memiliki 2 anak, Rini Pakpahan menikah dengan Hmri Lubis memiliki 1anak.
Riwayat pendidikan mamah saya, SD Negeri Aek Godang , SMP
Negeri Onan Ganjang, dan SMTP Tarutung Sipoholon. Selama bersekolah, mamah saya
selalu mendapatkan beasiswa. Oleh sebab itu dari SMP mamah sudah jauh dari
orang tuanya, nenek dan kakek saya. Dengan keberanian diri mamah pun akhirnya
merantau ke Jakarta dan bekerja di pabrik Garmen Indonesia yang berlokasi di
Sentul.
Sekarang bapak bekerja sebagai
seorang wiraswasta yaitu mengurus kedai kopi dan bengkel mobil motor di Jl.Raya
Bogor Km. 33, sedangkan mamah menjadi ibu rumah tangga dan menjalani usaha
warung sembako juga dirumah kami.
ini
adalah foto keluarga yang diambil pada saat angkat
sidi atau katekisasi dalam ajaran
Kristen dilakukan untuk pembelajaran Pendalaman Alkitab. Foto ini diambil pada
16 Agustus 2015 di gereja HKBP Cimanggis.
Saya
sangat mencintai keluarga ini. Mamah, Bapak, serta ke-2 adik saya. Mereka
adalah kekuatan, penolong, penyemangat, didalam kehidupan saya. Menyadari bahwa
tidak ada keluarga yang tidak memiliki masalah. Namun saya belajar bahwa dari
masalah-masalah tersebut, saya diajarkan bahwa mereka tempat saya pulang,
masalah menjadikan keluarga kami saling menopang dan menguatkan sehingga selalu
dapat menyelesaikan masalah-masalah dengan kepala dingin.
Sebagai
anak pertama dari keluarga ini, saya akan bekerjakeras membahagiakan mereka,
masih ada 2 adik saya yang pendidikannya masih akan terus berlanjut, dan saya
akan kuliah di POLIMEDIA dengan sungguh-sungguh dan lulus dengan baik nantinya.
Amin.
ADIK KE-2 RINA
Tesalonika Ulina
Pasaribu dilahirkan pada 31 Agustus 2013 di RSIA Setya Bhakti Jl. Raya Bogor
No. 35, Mekarsari, Cimanggis, Kota Depok, pada pukul 13.00 WIB dengan proses
melahirkan caesar. Dengan berat 3,4 Kg dan panjang 51 Cm. Tesalonika mempunya
rentang umur yang cukup jauh dengan saya dan Dwi. Dengan saya rentangnya 14
tahun, dan dengan Dwi rentangnya 9 tahun. Mamah saya mengikuti program KB,
namun keluarga kami berencana untuk menambah satu anak lagi, mencoba
peruntungan jika diberi kesempatan mendapat anak laki-laki, namun tidak
dijadikan tolak ukur. Kami termasuk keluarga yang menerima apa adanya.
Sebenarnya, sebelum hamil Tesalonika, mamah saya pernah hamil sampai usia
kandungannya tiga bulan sampai akhirnya beliau mengalami keguguran akibat
kelelahan fisik dan asupan nutrisi yang terganggu. Sebenarnya itu merupakan
pukulan berat bagi keluarga kami pada saat itu. Saya ingat betul ketika dokter
di RS. Sentra Medika memutuskan melakukan operasi kirek atau pengangkatan janin
kepada mamah saya. Sangat sedih dan terpukul mengingat kejadian tersebut.
Tetapi Puji Tuhan akhirnya segala kesedihan tergantikan dengan kedatangan putri
kecil di keluarga kami. karena umur mamah yang telah mencapai 39 tahun, dan
tidak memungkinkan melakukan persalinan normal, maka dari itu diputuskan untuk
melakukan operasi caesar. Selain itu, pada malam 30 Agustus 2013, saya menemani
mamah untuk konsultasi dan USG terakhir ke RSIA Setya Bhakti, dan ternyata usia
kandungan mamah telah cukup untuk dikeluarkan, namun belum ada tanda-tanda
kontraksi. Dokter mengatakan untuk dilakukan induksi supaya ada kontraksi,
namun akhirnya mamah memutuskan tidak melakukan induksi karena sama saja jika
ujung-ujungnya harus melakukan operasi caesar, maka lebih cepat lebih baik.
Jadilah tanggal 31 Agustus 2013 sebagai hari lahir Tesalonika Ulina Pasaribu.
Nama ‘Tesalonika’ sendiri diambil dari alkitab dan ‘Ulina’ diambil dari bahasa
Batak yakni, jelita atau cantik. Jadi, Tesalonika artinya perempuan Kristen yang
jelita.
Tesalonika dibabtis pada 15 Desember
2013 di Gereja HKBP Cimanggis pada saat usianya yang ke 4 bulan .
Saat pertumbuhannya dari bayi ke balita, banyak sekali
perubahan yang dialaminya. Baik saat pertumbuhan gigi, dimana dia juga
mengalami demam dan cengeng dan akhirnya tidak dapat tidur saat-saat seperti itulah yang akhirnya
membuat kami mau tidak mau harus begadang. Opname di Rumah Sakit pun mengiringi
jalan pertumbuhan Tesalonika. Sudah sebanyak dua kali dia di rawat dirumah
sakit. Yang pertama, di RS. Simpangan Depok, diakibatkan waktu itu sedang
diadakan fogging atau pengasapan. Ternyata udara yang dipenuhi asap membuat
Tesalonika mengalami batuk berkepanjangan. Akhirnya karena tidak tega, dengan
kondisinya yang selalu batuk, kami memutuskan untuk melakukan opname pada
Tesalonika. Yang kedua, dia di opname di RS. Tumbuh Kembang akibat demam
tinggi.
Sekarang, Tesalonika telah berumur 4 tahun. Banyak sekali
perkembangan yang ditunjukkan. Mulai
dari cara bicara, kemampuan berhitung, menghafal alphabet, juga kemampuan
dibidang seni, sekarang dia juga sudah dapat membedakan situasi, kapan waktu
bermain, dan waktu istirahat. Sungguh bahagia melihat perkembangan yang
ditunjukkan secara signifikan. Mulai dari umurnya yang ke 2 tahun, Tesalonika
mulai dibiasakan menggunakan sandal saat keluar rumah. Sejak saat pertama kali
menggunakan sandal sampai sekarang dia tidak pernah terbalik membedakan kiri
dan kanan. Sebelum genap berumur 4 tahun
pun, Tesalonika sudah lancar dalam berbahasa dan pengucapan terutamanya
pengucapan huruf ‘R’. Namun lucunya, dia
mengira bahwa huruf ‘L’ adalah ’
R’jadilah setiap ada kata atau kalimat dengan huruf ‘L’, akan diucapkan dengan
‘R’. Seperti contoh, memanggil temannya yang bernama ‘Farel’ menjadi ‘Farer’,
mengucapkan ‘lari’ menjadi ‘rari’.
Langganan:
Postingan (Atom)

